Saturday 21st September 2019

BMKG Dapat Peringatan karena Mencabut Peringatan Tsunami Setelah Gempa Palu

BMKG Dapat Peringatan karena Mencabut Peringatan Tsunami Setelah Gempa Palu

Peringatan tsunami di Palu dicabut setelah 34 menit. Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia mengaku tidak memiliki data di kota tersebut, tempat penghancuran orangutan. Gelombang laut setinggi 6 meter menghantam pesisir pantai Palu, Jumat senja, menyapu dan merobohkan berbagai bangunan di sana.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mencabut petunjuk tsunami 34 menit setelah dikeluarkan, gempa bumi besar yang menyebabkan gelombang besar menerjang pantai timur laut pulau Sulawesi. Gempa berkekuatan 7,5 dan tsunami, yang melanda kota Palu, sekitar 1.500 kilometer dari Jakarta dan jauh di pantai, telah menewaskan mundur 420 orang. Para petugas mengatakan pada hari Sabtu (29/9) bahwa jumlah korban yang tewas akan meningkat secara signifikan.

Ratusan orang berkumpul untuk sebuah festival di pantai di Palu, Pulau Sulawesi pada hari Jumat (28/9) membuat gelombang laut setinggi enam meter menghantam daratan pada waktu senja, menyapu dan menewaskan banyak orang.

BMKG Menghadapi banyak kritik pada hari Sabtu (29/9) di media sosial, mengumpulkan banyak orang yang memperdebatkan waktu peringatan tsunami di Palu . Badan tersebut mengatakan, tindakan mereka telah mengikuti prosedur tsunami dan data untuk tsunami berdasarkan data yang tersedia dari sensor pasang surut terdekat, sekitar 200 kilometer dari Palu.

“Kami tidak memiliki data di Palu. Jadi kami harus menggunakan data yang kami miliki dan membuat keputusan berdasarkan hal itu, ”kata Rahmat Triyono, kepala pusat gempa dan tsunami di BMKG. Dia mengatakan bahwa pengukur pasang surut terdekat, yang dalah di permukaan laut, hanya mencatat gelombang “tidak signifikan” setinggi 6 cm dan tidak menemukan gelombang besar di dekat Palu.

“Jika kami memiliki alat pengukur pasang surut atau data yang tepat di Palu, tentu hal itu akan lebih baik. Ini adalah sesuatu yang harus kami masa depan, ”kata Triyono.

Tidak ada jawaban yang jelas tentang tsunami, yang telah dilakukan para pejabat telah menghantam Palu dan daerah sekitarnya dengan kecepatan yang sangat tinggi dalam Ratusan kilometer per jam, terjadi sebelum atau sesudah Peringatan yang dicabut.

“Berdasarkan video yang tersebar di media sosial, kami menggambarkan terjadinya tsunami sebelum petunjuk secara resmi berakhir,” kata Triyono.

Baptiste Gombert, seorang peneliti geofisika di Universitas Oxford, mengakui bahwa gempa tersebut telah menghasilkan tsunami. Gempa pada hari Jumat (28/9) lalu sebagai layar sentuh ( strike-slip ), peleburan yang melebar secara horizontal.

 

“Menemukan beberapa spekulasi yang ada tanah longsor di bawah laut, yang mengalokasikan volume udara cukup dan menyebabkan tsunami,” katanya, menambahkan bahwa teluk kecil Palu mungkin telah memusatkan kekuatan gelombang saat bergerak menuju pantai.

Sutopo Purwo Nugroho, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan kepada para wartawan bahwa timnya telah “bersiap-siap untuk mengirim petunjuk publik yang mudah dimengerti” membuat petunjuk tsunami “tiba-tiba saja tiba.” Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui pesan teks, tetapi Nugroho mengatakan gempa telah memadamkan listrik dan saluran komunikasi di daerah itu dan tidak ada sirine di Sepanjang pantai.

Tak sedikit warga Indonesia yang mempertanyakan hasil BMKG untuk mencabut sasaran tsunami dan kegagalan untuk menyampaikan informasi pada saat yang tepat, kemudian menyalurkan aspirasi mereka melalui media sosial.

“Sungguh mengecewakan… acara itu dicabut… walaupun tsunami akhirnya benar-benar terjadi,” tutur pengguna Twitter @zanoguccy dalam pesan pribadi di Twitter ke BMKG.

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan